Siwah Blog

Juli 10, 2006

Pahami Tujuan Hidup

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — siwah @ 5:35 pm

"People with goals succeed because they know where they're going. – Orang-orang yang mempunyai suatu target berhasil mencapai sukses, sebab mereka mengetahui kemana arah langkah mereka." Earl Nightingale

Bayangkan jika kita melihat seekor kucing yang mengejar seekor tikus. Kemana pun tikus berlari maka kucing itu pun akan memperhatikan dengan pandangan yang sangat tajam dan sewaktu-waktu dengan sigap menyergap sang tikus. Tingkah kucing yang berlari kian kemari mengejar tikus tentu suatu pemandangan yang wajar.

Namun persepsi kita akan berbeda jika salah satu di antara kedua binatang tersebut tidak kelihatan. Misalnya saja hanya kucingnya yang nampak, sedangkan tikusnya tidak. Maka tingkah kucing itu tentu membuat kita tertawa. Sebab kita tidak mengetahui sasaran yang sedang dibidik oleh kucing tersebut.

Kiasan di atas dapat diartikan bahwasanya manusia mempunyai keunikan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, di antara manusia juga mempunyai perbedaan tujuan hidup. Si A misalnya boleh merasa aneh dengan tingkah laku Si B, sebab Si A tidak mengetahui tujuan yang hendak dicapai oleh Si B.

Henry Ford mempunyai bakat dan tujuan hidup yang berbeda dengan Walt Disney, Andrew Carnegie, dan lain sebagainya. Henry Ford mempunyai tujuan memproduksi dan mendistribusikan mobil berkualitas secara masal. Sedangkan Walt Disney mempunyai tujuan hidup membahagiakan orang lain melalui hiburan. Lalu Andrew Carnegie ingin memproduksi dan medistribusikan baja ke seluruh dunia, dan masih banyak contoh
lainnya. Faktanya, orang-orang yang sukses di dunia itu pasti mempunyai tujuan hidup.

Masing-masing di antara kita tentu juga mempunyai tujuan hidup. Tetapi saya heran mengapa tujuan hidup sebagian besar manusia di dunia ini tidak mampu berperan penting dalam mencapai kesuksesan? Setelah sekian lama saya mengamati, rupanya penyebab utama tujuan hidup itu tidak dapat berfungsi sebagai langkah penting untuk
mencapai kesuksesan adalah ketidakmampuan kita sendiri dalam memahami dan mendefisikan tujuan hidup tersebut.

Sebagian besar di antara kita memang mempunyai tujuan hidup, tetapi "People with goals succeed because they know where they're going. – Orang-orang yang mempunyai suatu target berhasil mencapai sukses, sebab mereka mengetahui kemana arah langkah mereka." Earl Nightingale

Bayangkan jika kita melihat seekor kucing yang mengejar seekor tikus. Kemana pun tikus berlari maka kucing itu pun akan memperhatikan dengan pandangan yang sangat tajam dan sewaktu-waktu dengan sigap menyergap sang tikus. Tingkah kucing yang berlari kian kemari mengejar tikus tentu suatu pemandangan yang wajar.

Namun persepsi kita akan berbeda jika salah satu di antara kedua binatang tersebut tidak kelihatan. Misalnya saja hanya kucingnya yang nampak, sedangkan tikusnya tidak. Maka tingkah kucing itu tentu membuat kita tertawa. Sebab kita tidak mengetahui sasaran yang sedang dibidik oleh kucing tersebut.

Kiasan di atas dapat diartikan bahwasanya manusia mempunyai keunikan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, di antara manusia juga mempunyai perbedaan tujuan hidup. Si A misalnya boleh merasa aneh dengan tingkah laku Si B, sebab Si A tidak mengetahui tujuan yang hendak dicapai oleh Si B.

Henry Ford mempunyai bakat dan tujuan hidup yang berbeda dengan Walt Disney, Andrew Carnegie, dan lain sebagainya. Henry Ford mempunyai tujuan memproduksi dan mendistribusikan mobil berkualitas secara masal. Sedangkan Walt Disney mempunyai tujuan hidup membahagiakan orang lain melalui hiburan. Lalu Andrew Carnegie ingin memproduksi dan medistribusikan baja ke seluruh dunia, dan masih banyak contoh
lainnya. Faktanya, orang-orang yang sukses di dunia itu pasti mempunyai tujuan hidup.

Masing-masing di antara kita tentu juga mempunyai tujuan hidup. Tetapi saya heran mengapa tujuan hidup sebagian besar manusia di dunia ini tidak mampu berperan penting dalam mencapai kesuksesan? Setelah sekian lama saya mengamati, rupanya penyebab utama tujuan hidup itu tidak dapat berfungsi sebagai langkah penting untuk
mencapai kesuksesan adalah ketidakmampuan kita sendiri dalam memahami dan mendefisikan tujuan hidup tersebut.

Sebagian besar di antara kita memang mempunyai tujuan hidup, tetapi terkadang jumlah tujuan hidup itu bisa sampai ratusan. Sifat tujuan hidup itu pun masih rancu atau tidak terperinci secara pasti. Agar hal itu tidak terjadi, maka sebaiknya buatlah konsep mengenai tujuan hidup untuk jangka waktu tertentu, misalnya untuk 1 minggu ke depan, 1 bulan atau satu tahun ke depan.

Pengambilan keputusan merupakan tahap selanjutnya yang sangat penting. Untuk itu berpikirlah lebih dalam, jernih dan terkontrol sebelum benar-benar memutuskan apa tujuan hidup Anda. Sebuah pepatah bijak mengatakan, "Your decisions determine your direction, and your direction determines your destiny. – Keputusanmu menentukan arah tujuan, dan tujuanmu menentukan keberuntunganmu." Karena itu Anda akan memerlukan lebih banyak informasi agar dapat memutuskan sebuah tujuan hidup yang paling tepat.

Sebagai contoh adalah keputusan Nelson Mandela. Berdasarkan pengalaman dan latar belakang kehidupannya, ia memilih tujuan hidup membebaskan rakyat Afrika Selatan dari tekanan politik rasialisme. Sejak tahun 1942, ia sering terlibat aksi-aksi dan organisasi politik. Kehidupan Nelson berubah sebagai konsekuensi atas keputusannya terjun ke dunia politik.

Sepanjang tahun 1950-an, Mandela selalu menjadi korban tekanan kekuasaan. Nelson dipenjarakan bertahun-tahun, berpindah-pindah dari penjara pulau Robben, Pollsmoor di Cape Town, dan penjara Victor Verster. Ia baru dibebaskan pada tanggal 11 Februari 1990.

Nelson berhasil menerima hadiah Perdamaian Nobel pada tahun 1993 dan terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan untuk masa jabatan 10 Mei 1994 hingga Juni 1999. Semua berawal dari keputusannya memperjuangkan hak asasi manusia dan persamaan ras di Afrika Selatan sebagai tujuan hidup. Karena itu membuat keputusan mengenai apa tujuan hidup Anda merupakan langkah yang sangat penting.

Setelah membuat keputusan mengenai tujuan hidup, maka langkah berikutnya adalah menuliskan tujuan hidup tersebut. Menuliskan tujuan hidup dimaksudkan untuk memudahkan Anda memahaminya. Jika tujuan hidup itu ditulis, itu artinya Anda sudah menciptakan instruksi yang jelas mengenai apa yang harus Anda lakukan dan bagaimana
mengembangkan rencana berikutnya.

Langkah-langkah tersebut sangat efektif digunakan untuk dapat memahami tujuan hidup. Pemahaman terhadap tujuan hidup sangat penting sebab proses pencapaian tujuan hidup berkembang dari pemikiran hingga menjadi sketsa, dari sketsa ke tindakan, dan dari tindakan ke pencapaian yang sesungguhnya. Goethe mengatakan, "Hal terbesar di dunia ini bukanlah dimana Anda berdiri, melainkan kemana Anda akan pergi." Itu artinya, jika Anda mampu menetapkan, memahami dan memperjelas tujuan hidup, maka kemungkinan untuk meraih sukses juga akan lebih besar.

Sumber: Pahami Tujuan Hidup oleh Andrew Ho.
terkadang jumlah tujuan hidup itu bisa sampai ratusan. Sifat tujuan hidup itu pun masih rancu atau tidak terperinci secara pasti. Agar hal itu tidak terjadi, maka sebaiknya buatlah konsep mengenai tujuan hidup untuk jangka waktu tertentu, misalnya untuk 1 minggu ke depan, 1 bulan atau satu tahun ke depan.

Pengambilan keputusan merupakan tahap selanjutnya yang sangat penting. Untuk itu berpikirlah lebih dalam, jernih dan terkontrol sebelum benar-benar memutuskan apa tujuan hidup Anda. Sebuah pepatah bijak mengatakan, "Your decisions determine your direction, and your direction determines your destiny. – Keputusanmu menentukan arah tujuan, dan tujuanmu menentukan keberuntunganmu." Karena itu Anda akan memerlukan lebih banyak informasi agar dapat memutuskan sebuah tujuan hidup yang paling tepat.

Sebagai contoh adalah keputusan Nelson Mandela. Berdasarkan pengalaman dan latar belakang kehidupannya, ia memilih tujuan hidup membebaskan rakyat Afrika Selatan dari tekanan politik rasialisme. Sejak tahun 1942, ia sering terlibat aksi-aksi dan organisasi politik. Kehidupan Nelson berubah sebagai konsekuensi atas keputusannya terjun ke dunia politik.

Sepanjang tahun 1950-an, Mandela selalu menjadi korban tekanan kekuasaan. Nelson dipenjarakan bertahun-tahun, berpindah-pindah dari penjara pulau Robben, Pollsmoor di Cape Town, dan penjara Victor Verster. Ia baru dibebaskan pada tanggal 11 Februari 1990.

Nelson berhasil menerima hadiah Perdamaian Nobel pada tahun 1993 dan terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan untuk masa jabatan 10 Mei 1994 hingga Juni 1999. Semua berawal dari keputusannya memperjuangkan hak asasi manusia dan persamaan ras di Afrika Selatan sebagai tujuan hidup. Karena itu membuat keputusan mengenai apa tujuan hidup Anda merupakan langkah yang sangat penting.

Setelah membuat keputusan mengenai tujuan hidup, maka langkah berikutnya adalah menuliskan tujuan hidup tersebut. Menuliskan tujuan hidup dimaksudkan untuk memudahkan Anda memahaminya. Jika tujuan hidup itu ditulis, itu artinya Anda sudah menciptakan instruksi yang jelas mengenai apa yang harus Anda lakukan dan bagaimana
mengembangkan rencana berikutnya.

Langkah-langkah tersebut sangat efektif digunakan untuk dapat memahami tujuan hidup. Pemahaman terhadap tujuan hidup sangat penting sebab proses pencapaian tujuan hidup berkembang dari pemikiran hingga menjadi sketsa, dari sketsa ke tindakan, dan dari tindakan ke pencapaian yang sesungguhnya. Goethe mengatakan, "Hal terbesar di
dunia ini bukanlah dimana Anda berdiri, melainkan kemana Anda akan pergi." Itu artinya, jika Anda mampu menetapkan, memahami dan memperjelas tujuan hidup, maka kemungkinan untuk meraih sukses juga akan lebih besar.

Sumber: Pahami Tujuan Hidup oleh Andrew Ho.

Terima Kasih Guruku

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — siwah @ 5:31 pm

Terima Kasih Guruku

Oleh: Said Muniruddin azZahir

Bagi saya, Cak Nur adalah tokoh nomor satu di Indonesia. Sejak pertama kali masuk periode penggodokan di HMI medio September 1997, nama Cak Nur mulai merasuk kuping saya. Terlebih lagi disaat senior-senior di HMI -seperti bang Fadh, Sidik, dan Akhyar- mulai agresive melakukan penetrasi “indoktrinasi NDP” pada malam-malam kedua training yang saat itu dilaksanakan di Madrasah Diniyah Darussalam, dekat pos polisi yang sudah tidak ada lagi. NDPnya Cak Nur menjadi materi yang goresannya paling dalam di hati dan memori saya terutama setelah bang Saifullah Muhammad angkat bicara dengan alunan gaya dan bahasa “persuasive speaking-nya” yang mempesona. Setelah moment seminggu pembentukan diri di mesin (training) HMI, nama ayatollah HMI ini -meminjam kata-kata dari email Fadli alMahari- semakin menghujam dalam-dalam di sanubari saya.

Sejak saat itu, Buku-buku Cak Nur seperti “Islam, Doktrin dan Peradaban”, “Pintu-Pintu menuju Tuhan”, “Kaki Langit Peradaban Islam”, “Masyarakat Religius”, ”Sekularisasi dan Modernisasi” menjadi diantara dari beberapa buku Cak Nur yang saya baca berulang kali. Rasanya selalu ada sebagian sisi dari jiwa saya yang terobati setelah membaca karangan-karangannya.

Mulai saat itu pula, Cak Nur menjadi salah seorang yang saya idam-idamkan untuk bertemu. Namun bertatapan muka “face to face” bukanlah hal yang gampang. Saya di Aceh sementara beliau jauh di Jakarta. Saat itu, Jawa/Jakarta adalah teritorial asing bagi saya. Maklumlah, mobilitas saya diawal fase ke-HMI-an tidak sekencang seperti disaat menjabat Ketua Umum HMI cabang Banda Aceh (2000-2001). Mengundang beliau ke Aceh pun bukan pula sesuatu yang sederhana. Kesibukannya yang luar biasa padat telah terjadwal jauh-jauh bulan sebelumnya. Acara pelantikan KAHMI Aceh dipenghujung abad 21 yang saat itu diadakan di Sultan Hotel pun sempat amburadul karena beliau batal hadir justru pada hitungan jam ketika acara akan dimulai. Pupus sudah harapan saya untuk bertatap muka dengan guru bangsa. Saya kecewa.

Adalah berita besar ketika mendengar Cak Nur akan hadir ke gelanggang mahasiwa Dayan Dawood Academic Centre pada awal 2003. Kunjungan itu merupakan rangkaian safari beliau keseluruh Indonesia dalam rangka silaturahmi menuju RI-1. Acara ini di fasilitasi oleh BEM Fakultas Hukum Unsyiah. Sebelumnya saya mendengar isu jika kehadiran Cak Nur ditolak oleh BEM Unsyiah untuk alasan “netralitas kampus dari kampanye politik”. Sebuah alasan penolakan yang agak sulit saya terima disaat mahasiswa butuh tokoh-tokoh cerdas untuk didengar pikirannya.

Ada hal yang agak menggelikan. Saya masih ingat sebuah spanduk panggung yang terjadi kesalahan penulisan nama Cak Nur. Disana -jika saya tidak salah- tertulis ” Nurkalis Majid”, yang seharusnya “Nurkholish Madjid”. Beliau sendiri tidak menyinggung terhadap spanduk tersebut dan hanya diam saja sambil tersenyum. Mungkin ini sikap beliau yang tidak mau memperbesar masalah atau mengkritik suatu kesalahan kecil yang wajar terjadi akibat kerja keras yang kurang teliti.

Beliau bicara singkat dan sangat padat. Ceramahnya banyak menyinggung tentang kondisi bangsa yang mengiris dada serta keharusan kita untuk memperbaikinya. Sama sekali tidak ada nada dan bahasa kampanye untuk mohon dipilih jadi presiden. Acara pun dilanjutkan dengan tanya jawab. Dengan semangat 45, keras, dan menggelegar, para mahasiswa masih mempersoalkan tema-tema utama Cak Nur tahun 70an: “islam yes, partai islam no”, “sekularisasi dan modernisasi”, dan “pluralisme”. Jawaban beliau masih lebih kurang sama seperti di buku-buku yang telah banyak ditulisnya. Namun kebanyakan mahasiswa sepertinya banyak tidak membaca konsep-konsep tersebut. Teman-teman mahasiswa cenderung lebih menyimak komentar negatif dari orang-orang tentang citra Cak Nur. Mahasiwa lebih memahami apa kata orang tentang ide Cak Nur ketimbang memahami langsung apa yang ditulisnya. Namun Cak Nur masih sangat sabar menjawab. Dengan suaranya yang santun beliau kembali menjelaskan makna terdalam dari Islam dan pluralisme yang sebagian besar masih sulit diterima oleh pikiran mahasiwa yang -menurut saya- belum sepenuhnya tercerahkan.

Satu kata yang sulit saya lupakan sampai sekarang adalah ucapan Cak Nur di penghujung acara. Nasihat beliau berbentuk catatan kecil yang ditulisnya di secarik kain dengan bunyi: “Barang siapa yang tak penah merasakan pahitnya belajar ketika menjadi mahasiswa, maka ia tidak akan pernah merasakan indahnya masa depan”. Kata-kata inilah yang sampai detik ini masih menyadarkan saya akan keharusan penderitaan ketika sedang menempuh pendidikan. Kata-kata inilah yang sampai hari ini masih terus menyemangati saya untuk tidak mengalah pada kesukaran dalam belajar. Nasihat inilah yang terus membisiki saya bahwa segala kepedihan dalam menuntut ilmu akan berujung kepada kebahagiaan jangka panjang. Terima kasih guruku, Allah yarham: Cak Nur.

University of Birmingham

England – United Kingdom

Monday, 05th September 2005

18.00 PM

Pribadi dan Budi Pekerti Rasullah SAW (Part 1)

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — siwah @ 5:26 pm

Terjamah Hadits Mengenai Pribadi dan Budi Pekerti Rasulullah SAW alih bahasa Drs. M. Tarsyi Hawi.


Judul Asli
As-Syamailul Muhammadiyyah oleh At-Tirmidzi (Abu �Isa Muhammad bin �Isa bin Saurah).


BAB I BENTUK TUBUH RASULULLAH SAW

  1. Dalam satu Riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. diceritakan sbb:

Rasulullah saw bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak juga pendek. Kulitnya tidak putih (seperti bule) juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak keriting dan tidak pula lurus kaku.

  1. Demikian pula Anas bin Malik r.a. bercerita perihal bentuk tubuh Rasullah saw sbb:

Rasullah saw mempunyai bentuk tubuh yang sedang, serta bentuk tubuhnya bagus. Rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku dan berwarna kehitam-hitaman. Bila beliau berjalan, maka jalannya cepat.

  1. Dari riwayat lain yang bersumber dari Al-Bara bin �Azib r.a. diceritakan

Aku tidak pernah melihat orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari Rasullah saw. Rambutnya mencapai kedua bahunya. Kedua bahunya bidang.

  1. Dalam suatu riwayat yang bersumber dari �Ali bin Abi Thalib k.w. dikemukakan:

Nabi saw tiadalah berperawakan tinggi, tidak pula pendek. Telapak tangan dan kakinya terasa tebal. Kepalanya besar, demikian pula tulang persendiannya. Bulu dadanya memanjang. Bila beliau berjalan, berjalannya seakan2 sedang turun ke tempat rendah. Tidak pernah aku melihat orang seumpama beliau, baik sebelum maupun sesudahnya.

  1. Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Hasan bin �Ali r.a. dikemukakan bahwa ia pernah bertanya kepada pamannya yang bernama Hind bin Abi Halah tentang sifat Nabi saw. Hind menjawab:

Rasullah saw adalah seorang yang berjiwa besar dan berwibawa. Wajahnya cerah bagaikan rembulan di bulan purnama. Beliau lebih tinggi dari orang yang pendek dan lebih pendek dari pada orang yang tinggi. Beliau berjiwa pelindung. Rambutnya bergelombang. Apabila beliau menyisir rambutnya, maka dibelahlah menjadi dua. Bila tidak, maka ujung rambutnya tidak melampaui daun telinga. Rambutnya disisir dengan rapih, sehingga tampak selalu bersih. Dahinya lebar, alisnya melengkung bagaikan dua bulan sabit yang terpisah. Hidungnya mancung, dipuncaknya ada cahaya yang memancar, sehingga orang yang tidak mengamatinya akan mengira puncak hidungnya lebih mancung. Janggutnya tebal, kedua pipinya mulus, mulutnya lebar serasi dengan wajahnya, giginya agak jarang teratur rapih, bulu dadanya halus. Bentuk tubuhnya sedang2 saja, badannya berisi, perut dan dadanya sejajar, dadanya bidang, jarak antara kedua bahunya lebar dan persendiannya besar. Badannya yang tidak ditumbuhi rambut nampak bersih bercahaya. Kedua telapak tangan dan kakinya tebal, jemarinya panjang, lekukan telapak kaki tidak menempel di tanah. Kedua kakinya licin sehingga air pun tidak menempel. Bila ia berjalan, diangkatnya kakinya dengan tegap. Ia melangkah dengan mantap dan berjalan dengan sopan. Jalannya cepat, seakan beliau turun ke tempat rendah. Bila beliau menoleh seseorang, maka beliau memalingkan seluruh badannya. Pandangan matanya terarah ke bawah, hingga pandangannya ke bumi lebih lama daripada pandangan ke langit. Bila ada sahabat berjalan, maka beliau berjalan di belakangnya dan bila ber[apasan beliau menyapanya dengan salam.

  1. Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu �Abbas r.a.dikemukakan:

Rasullah saw mempunyai gigi seri yang renggang. Bila beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar dari diantara kedua gigi serinya itu.

BAB III DAN IV RAMBUT DAN CARA BERSISIR RASULLAH SAW

  1. Dalam satu Riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. diceritakan sbb:

Rambut Rasullah saw mencapai pertengahan kedua telinganya.

  1. �Aisyah r.a. pernah berkata sebagai berikut:

Aku dan Rasullah saw mandi dari tempayan yang sama. Beliau memikiki rambut yang panjangnya sampai di atas bahu dan di bawah daun telinga.

  1. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Ummu Hani binti Abu Thalib pernah berkata:

Rasullah saw tiba di Mekkah (pada saat pembebasan kota Mekkah). Sedang rambutnya dijalin menjadi empat.

  1. Dalam suatu riwayat, Ibnu �Abbas r.a. mengemukakan:

Sesungguhnya Rasullah saw dulunya menyisir rambutnya ke belakang, sedangkan orang2 musyrik menyisir rambut mereka ke kiri dan ke kanan, dan Ahlul Kitab menyisir rambutnya ke belakang. Selama tidak ada perintah lain, Rasullah senang menyesuaikan diri dengan Ahlul Kitab. Kemudian, Rasullah saw menyisir rambutnya ke kiri dan kanan.

  1. Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. dikemukakan:

Rasulullah saw sering meminyaki rambutnya, menyisir janggutnya dan sering menyisir rambutnya, beliau menutupi bahunya dengan kain kerudung.

  1. Qatadah bertanya kepada Anas bin Malik r.a.

�Pernahkah Rasullah saw menyemir rambutnya yang telah beruban?�

Anas bin Malik menjawab: �Tidak sampai demikian. Hanya beberapa lembar uban saja di pelipisnya. Namun Abu Bakar r.a. pernah mewarnai (rambutnya yang memutih) dengan daun pacar dan katam*�.

* Katam adalah sejenis tumbuh2an yang biasa digunakan untuk memerahi rambut sedangkan warnanya merah tua.

  1. Dalam suatu riwayat, Simak bin arb r.a. mengungkapkan:

�Aku mendengar Jabir bin Samurah r.a. menjelaskan, setelah ia ditanya tentang uban Rasulullah saw:

�Apabila Rasullah saw meminyaki rambut kepalanya, maka tidak terlihat uban dikepalanya. Sedangkan bila tidak meminyakinya, terlihat sedikit uban di kepalanya�.

  1. Dalam suatu riwayat yang bersumber dari �Ustman bin Mauhab r.a. diungkapkan:

Abu Hurairah r.a. pernah ditanya: �Apakah Rasulullah saw pernah memacari rambutnya?�

Ia menjawab:�Ya�.

  1. Dalam suatu riwayat Anas bin Malik r.a. menerangkan

Aku meilhat rambut Rasullah saw dipacari merah.

LEPASKAN KEPAHITAN

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — siwah @ 5:11 pm

Di suatu hutan hiduplah sekelompok monyet. Pada suatu hari, tatkala mereka tengah bermain, tampak oleh mereka sebuah toples kaca berleher panjang dan sempit yang bagian bawahnya tertanam di tanah. Di dasar toples itu ada kacang yang sudah dibubuhi dengan aroma yang disukai monyet. Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu.

Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu. Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal.

Seekor monyet tua menasihati monyet muda itu: ‘Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah! Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu.

Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya: ‘Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!
Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang pemburu.

Demikianlah, kadang kita juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya kita lepaskan: KEMARAHAN, KEBENCIAN, IRIHATI, KETAMAKAN, dan sebagainya. Apabila kita tetap tak bersedia melepas,tatkala kematian datang menangkap kita, semuanya akan sudah terlambat.

Bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lampau, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah dunia akan menjadi lebih indah jika kita bisa melepaskan “Kepalan” kita dan membagi kebahagiaan dengan orang lain?

Taqdir definition

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — siwah @ 4:48 pm

Menurut saya, Taqdir adalah konsep keimanan yang paling membingungkan dalam islam. Dibandingkan dengan fondasi keimanan lainnya (e.g., Percaya kpd Allah, Malaikat, Kitab, Nabi, dan Akhirat), Konsep Taqdir adalah yg paling memeras otak. Coba tanya sama 10 orang teungku, maka anda akan dapat 10 penjelasan berbeda. Ada yg mengatakan bahwa apa yg akan terjadi besok itu sudah ditentukan Allah. Lihat contoh dari Zulhelmi tentang Nabi Musa dan Biji Jagung. Betapapun si PBS tsb berusaha mengubah Taqdirnya, dia tetap saja tidak bisa karena sudah ditentukan Tuhan. Karena alasan seperti inilah maka banyak orang islam menjadi apatis. Ngapain capek2 berikhtiar, toh semua sudah ditentukan Tuhan. Itulah Taqdir. Konsep seperti ini disebut2 ada basisnya di Qur’an.

Ada juga yg bilang bahwa “nasib suatu kaum tidak akan berubah, kecuali kaum itu merubahnya sendiri”. Inipun berlandaskan Qur’an. Nah, kalau begitu manusia bebas sekali dong. Allah menyerahkan kepada kita untuk mendapatkan hasil apa saja yg kita kehendaki tanpa didekte oleh kemauan Tuhan. Jadi yg benarnya yg mana? Apakah manusia bebas berkehendak atau Allah yg berkehendak? Kalau manusia yg menentukan apa yg akan terjadi besok, itu kayaknya bertentangan dengan konsep Taqdir pertama, Allahlah yg berkehendak. Atau sebaliknya, kalau semua sudah ditentukan Allah, maka Allahlah yg bertanggung jawab atas perbuatan kita, bukan kita!

Atau jangan2 kedua2nya benar, bahwa ada hal2 yg kita dapat tentukan dan ada hal2 yg sudah Allah tentukan. Kalau memang demikian, pertanyaannya begini: mana wilayah yg manusia diberikan kemerdekaan untuk mendapatkannya? dan mana segmen yg sudah jelas ditentukan Tuhan? Ini perlu diketahui supaya segala kemauan kita tidak kita beradu dengan kemauannya Tuhan. Kalau sudah begini, konsep takdir tidak lagi sederhana. Makanya banyak orang susah memahami rukun iman yg keenam ini. Padahal rukun iman, seharusnya, mudah dipahami. Ada pertanyaan2 yg masih tersisa ruang yg lebar untuk jawaban yg masuk akal. Misalnya: Apa definisi Taqdir? Apa itu Qada dan Qadar? Apa beda Taqdir dengan Qada & Qadar? Rukun iman itu Taqdir atau Qada & Qadar? Apa beda Taqdir dengan nasib? dsb.

Menurut saya, Taqdir adalah “ketapan Tuhan yg sudah baku”. Disebut juga “Sunnatullah” atau “hukum alam”. Misalnya, air mengalir dari tempat yg tinggi ketempat yg rendah. Matahari terbit disebelah timur dan tenggelam disebelah barat. Manusia mengalami pertumbuhan dari kecil, remaja, dewasa, tua lalu mati. Api itu panas. Es itu dingin, dsb. Itu semua adalah taqdir atau “hukum alam yg sudah pasti”. Apakah kita bisa merubah taqdir tsb? Ada taqdir yg bisa kita “pengaruhi”. Misalnya dengan bantuan teknologi (pompa), air bisa kita alirkan dari tempat yg rendah ke tempat yg tinggi, dsb. Jadi, Taqdir itu adalah “hukum alam”. Alqur’an ketika bicara tentang taqdir banyak berbicara tentang fenomena alam, bukan tentang nasib manusia.

Definisi lain tentang taqdir, menurut saya, adalah “sesuatu yg sudah terjadi”. Hari ini kita sudah menjadi ‘tukang ngajar di Universitas’, itulah taqdir. Hari ini Fardian belum kawin, itulah Taqdir. Kita tak bisa berbicara tentang taqdir tentang sesuatu yg belum terjadi. Misalnya, apakah Fakhrurrazi Amir akan ditaqdirkan menjadi Rektor Unsyiah? Apakah Ilhamsyah Siregar sudah ditaqdirkan menjadi Gubernur Aceh? tak ada jawaban untuk itu, karena pertanyaannya salah. Jadi atau tidak tergantung “ikhtiar” (bukan tergantung taqdir). Kalau sudah berusaha semaksimal mungkin ternyata tidak jadi juga menjadi seperti apa yg kita inginkan apakah berarti kita ditaqdirkan gagal oleh Allah? Menurut saya tidak. Kita gagal bukan karena taqdir, tapi karena belum bekerja secara maksimal. Ataupun kita tidak mencapai keberhasilan secara optimal karena keberhasilan kita dibatasi oleh keberhasilan orang lain. Manusia itu bebas menetukan hari depannya, namun kebebasan itu seringkali dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Regards,
Tgk.Said Munir

Juli 4, 2006

Hikmah Tempe Mentah

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — siwah @ 7:30 am

Di sebuah kampung..ada seorang penjual tempe yang sangat rajin beribadat. Tempe yang dijualnya merupakan tempe yang dibuatnya sendiri.
Pada suatu pagi, beliau hendak bersiap-siap untuk pergi menjual tempenya, tiba tiba dia tersadar tempenya hari itu masih separuh jadi. Padahal biasanya tempe tersebut telah masak. Diperiksanya beberapa bungkusan yang lain. Ternyata memang semuanya belum lagi masak.
Perempuan itu amat sedih, hari itu dia tidak akan dapat rezeki. Namun dia teringat akan firman Allah yang menyatakan bahwa Allah dapat mengabulkan segala hal, bahwa bagi Allah tiada yang mustahil. Lalu diapun mengangkat kedua tangannya sambil berdoa , “Ya Allah.. aku memohon kepadaMu agar kacang kedelai ini menjadi tempe. Amin”
Sebelum keluar dari rumah, dia sempat mengangkat kedua tangannya lagi untuk berdoa. “Ya Allah, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Engkau karuniakanlah keajaiban ini buatku, jadikanlah ini tempe. Amin”. Lalu dia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan dia tetap tidak lupa membaca doa di dalam hatinya. Sesampainya di pasar, dia meletakkan barang-barangnya. Hatinya betul-betul yakin bahwa tempenya pasti sudah jadi. Ternyata..tempenya masih tetap belum jadi!!
Dia menarik nafas dalam-dalam. Dalam hatinya sudah mula merasa sedikit kecewa dan putus asa kepada Allah kerana doanya tidak dikabulkan. Dia merasa Allah tidak adil. Allah tidak kasihan padanya, inilah satu-satunya mata pencahariannya.
Dia melirik kawan-kawan sesama penjual tempe, tempe mereka sudah hampir habis. Dia tertunduk lesu,tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa hari ini tidak ada hasil penjualannya..Namun jauh di sudut hatinya masih menaruh harapan terakhir kepada Allah, pasti Allah akan menolongnya. Lalu, dia berdoa untuk terakhir kalinya, “Allah, berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempeku yang mentah ini.”
Tiba-tiba�”Maaf ya, saya ingin bertanya, Apakah Ibu menjual tempe yang belum jadi? Dari tadi saya sudah keliling pasar ini untuk mencarinya tapi masih belum ketemu�”
Dia termenung dan kaget seketika. Hatinya terkejut sebab sejak berpuluh tahun berjualan tempe, tidak pernah seorang pun pelanggannya mencari tempe yang belum jadi. Sebelum dia menjawab pertanyaan wanita di depannya itu, cepat-cepat dia berdoa di dalam hatinya “Allah, saat ini aku tidak mau tempe yg telah jadi. Biarlah tempe ini seperti semula, Amin�!!”.Dia membuka sedikit daun penutup tempenya. Alangkah girangnya dia, tempenya masih belum jadi! Dgn rasa gembira dalam hatinya dia bersyukur pada Allah.
Wanita itu pun memborong habis semua tempenya yang belum jadi itu. Sebelum wanita itu pergi, dia sempat bertanya pd wanita itu, “Mengapa anda ingin membeli tempe yang belum jadi?”
Wanita itu menerangkan bahwa anaknya yang kini sekolah dan berada di Inggris ingin makan tempe dari Indonesia. Dikarenakan tempe itu akan dikirimkan ke Inggris, si ibu tadi tentulah harus membeli tempe yang belum jadi, supaya apabila sampai di Inggris nanti akan menjadi tempe yang sempurna. Kalau dikirimkan tempe yang sudah jadi, di sana tempe itu sudah tidak utuh lagi dan rasanya pun tidak enak.
Perempuan tua itu pun keheranan dan berfikir rupa-rupanya doanya sudah dikabulkan Allah…

The Moral behind of the story:
1) Kadang-kadang Allah sembunyikan matahari, DIA datangkan petir dan kilat. Kita menangis dan bertanya-tanya ke mana hilangnya matahari, rupa-rupanya Allah hendak memberi kita pelangi…Kita sering memaksakan kehendak kita kepada Allah sewaktu berdoa, padahal sebenarnya Allah lebih mengetahui apa yang kita perlukan dan apa yang terbaik untuk diri kita.
2) Sentiasalah berdoa dalam menjalani kehidupan keseharian kita sebagai hambaNya yang lemah. Jangan sekali-kali berputus asa terhadap apa yang diminta. Percayalah bahwa Allah akan mengabulkan doa kita sesuai dengan rancanganNya yang mungkin di luar jangkaun kita. Sungguh Dia adalah maha pengasih dan penyayang. Dialah sumber dari rasa cinta. Cinta sejati ialah kasih Allah kepada hambaNya. Sungguh, tiada yang mustahil bagi Nya.

Kadang cinta tak harus selalu berbentuk bunga

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — siwah @ 7:22 am

Aku mencintai suamiku karena sifatnya yang apa adanya dan aku begitu menyukai perasaan hangat yang muncul di hati ketika bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa perkawinan, harus aku akui bahwa mulai timbul rasa bosan dan lelah dengan kehidupan berumahtangga dengannya dan alasan-alasan mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Aku seorang wanita yang berjiwa sentimentil dan benar2 sensitif serta berperasaan halus. Aku merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan belaian. Tetapi semua itu tidak lagi aku peroleh. Suamiku kini jauh berbeda dari apa yang aku harapkan dulu. Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam perkawinan kami telah memusnahkan semua harapan tentang kehidupan cinta yang ideal.

Suatu hari, aku beranikan diri untuk menyatakan keputusan untuk bercerai!!!

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.

“Aku lelah, kamu tidak pernah memberikan cinta yang aku inginkan”

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, nampak
seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan aku semakin bertambah, seorang lelaki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang dapat aku harapkan darinya?

Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat aku lakukan untuk mengubah fikiranmu?”.

Aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan, “Aku ada
satu pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya, aku akan mengubah fikiranku: Seandainya, aku menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kau memanjat gunung itu, kau akan mati. Apakah kau akan melakukannya untukku?”

Dia pun termenung dan akhirnya berkata, “Aku akan memberikan jawabannya besok pagi.”

Hatiku langsung gundah mendengar reaksinya. Keesokan paginya, suamiku tiada di rumah, dan aku menemukan selembar kertas dengan coretan tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan…

“Sayang, aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi izinkan aku untuk menjelaskan alasannya.”

Kalimat pertama ini menghancurkan hatiku. Aku lantas terus membacanya.

“Sayang, kau biasa menggunakan komputer dan selalu menghadapi masalah
kerusakan program di dalamnya dan akhirnya menangis di depan monitor, Aku harus memberikan jari-jariku supaya dapat membantumu dan memperbaiki programnya.”

“Kau selalu lupa membawa kunci rumah ketika keluar rumah, dan aku harus memberikan kakiku supaya dapat menendang pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.”

“Kamu suka jalan2 ke luar kota tetapi selalu tersesat di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, Aku harus menunggu di rumah agar dapat memberikan mataku membantumu untuk mengarahkan jalan untukmu.”

“Kamu selalu kelelahan pada waktu teman baikmu datang setiap bulan, dan aku harus memberikan tanganku untuk memijit kakimu yang terkilir.”

“Kamu seorang yg suka diam di rumah, dan aku selalu khawatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburkanmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.”

“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk
kesehatan matamu, aku harus menjaga mataku agar ketika kita tua nanti, aku masih dapat menolong memotong kukumu dan mencabuti ubanmu.”

“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menyusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu”.

“Tetapi sayangku, aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Kerana, aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku�.”

“Sayangku, aku tahu, di luar sana ada banyak orang yang mampu mencintaimu lebih dari aku mencintaimu�”

“Untuk itu sayangku, jika semua yang telah kuberikan dengan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak dapat menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mataku jatuh di atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi aku tetap berusaha untuk membaca selanjutnya…

“Dan sekarang, sayangku�, kamu telah selesai membaca jawabanku. Jika kau berpuas hati dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri di luar pintu menunggu jawabanmu.”

“Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk mengambil barang-barangku, dan aku tidak akan menyusahkan hidupmu lagi. Percayalah, kebahagiaanku adalah apabila kau bahagia.”.

Aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah sendu sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh Tuhan�, kini baru aku tahu, tidak ada orang lain yang pernah mencintaiku lebih dari dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasakan pasangan kita tidak dapat memberikan cinta dalam bentuk yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam bentuk lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita perlukan adalah memahami bentuk cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan bentuk tertentu�. � KARENA CINTA TIDAK HARUS SELALU BERBENTUK �BUNGA �.

The Moral behind the story :

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, karena bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir untuk selamanya.
Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.

Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.
Jangan karena cinta, kita gugur dari perjuangan, dan jangan karena cinta juga, prinsip kita menjadi larut dan cair. Cinta tidak semestinya akan berakhir dengan perkawinan. Kesetiaan akan mengikat cinta, dan perkawinan akan menjadi indah jika cinta terus bersama.
Minat bukan berarti cinta, bangga bukan berarti cinta, kagum juga bukan berarti cinta, dan suka juga tidak sepadan dengan cinta, malah sayang pun bukan cinta. Tetapi, cinta itu adalah cinta�

Kata Mutiara Kahlil Gibran

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — siwah @ 7:11 am

“…pabila cinta memanggilmu… ikutilah dia walau jalannya berliku-liku… Dan, pabila sayapnya merangkummu… pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…” (Kahlil Gibran)

“…kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang” (Kahlil Gibran)

“Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan…” (Kahlil Gibran)

“Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan” (Kahlil Gibran)

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…” (Kahlil Gibran)

“Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini… pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang” (Kahlil Gibran)

“Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya” (Kahlil Gibran)

“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku… sebengis kematian… Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini… aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman” (Kahlil Gibran)

Juli 3, 2006

Kasih Sayang Seorang Kakak..

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — siwah @ 3:49 am

Seorang ibu muda, Karen namanya, sedang mengandung bayinya yang kedua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael –anaknya yang pertama yang baru berusia 3 tahun–, untuk menerima kehadiran adiknya. Michael senang sekali. Kerap kali ia menempelkan telinganya di perut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih di perut ibunya itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh di luar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen, “Bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.” Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya bila sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.

Lain halnya dengan Michael. Sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! “Mami… aku mau nyanyi buat adik kecil!” Ibunya kurang tanggap. “Mami… aku pengen nyanyi!!” Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. “Mami…. aku kepengen nyanyi !!!” Itu berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael sebagai rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak. Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. “Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup !” batinnya.

Ia dicegat oleh suster di depan pintu kamar ICU. “Anak kecil dilarang masuk !” Karen ragu-ragu. “Tapi, suster….” suster tak mau tahu. “Ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk !”

Karen menatap tajam suster itu, lalu berkata, “Suster, sebelum diizinkan bernyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya !” Suster terdiam menatap Michael dan berkata, “Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!”

Demikianlah, kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya… Lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring “You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey….”

Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. “You never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away.”

Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan, “Terus…. terus Michael! Teruskan sayang…,” bisik ibunya sambil menangis.

“The other night, dear, as I laid sleeping, I dreamt, I held you in my…” Dan, Sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur…”I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same….” Sang adik kelihatan begitu tenang, sangat tenang.

“Lagi sayang…” bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan…. adiknya kelihatan semakin tenang, rileks dan damai… lalu tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian, si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah terapi ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa!

Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”.

Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil “Michael” untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagi-NYA bila IA menghendaki terjadi�

Blog pada WordPress.com.