<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Siwah Blog</title>
	<atom:link href="http://siwah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://siwah.wordpress.com</link>
	<description>The First Edutainment Blog in Aceh</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 Oct 2011 03:19:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='siwah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Siwah Blog</title>
		<link>http://siwah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://siwah.wordpress.com/osd.xml" title="Siwah Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://siwah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kisah inspirasi untuk para istri dan suami</title>
		<link>http://siwah.wordpress.com/2011/10/12/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/</link>
		<comments>http://siwah.wordpress.com/2011/10/12/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 03:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>siwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://siwah.wordpress.com/2011/10/12/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/</guid>
		<description><![CDATA[Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki : Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=139&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://siwah.files.wordpress.com/2011/10/male_silhouette_by_bpmjackofhearts.jpg"><img class="alignnone size-full" src="http://siwah.files.wordpress.com/2011/10/male_silhouette_by_bpmjackofhearts.jpg" alt="" title="Husband Dream" width="150" height="97" /></a></p>
<p>Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :<br />
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.</p>
<p>Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.</p>
<p>Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.</p>
<p>Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.</p>
<p>Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.</p>
<p>Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.</p>
<p>Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.</p>
<p>Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.</p>
<p>Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.</p>
<p>“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.</p>
<p>Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”<br />
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.</p>
<p>Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.</p>
<p>Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.</p>
<p>Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.</p>
<p>Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.</p>
<p>Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.</p>
<p>Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.<br />
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.</p>
<p>Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.</p>
<p>Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.</p>
<p>Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.</p>
<p>Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.</p>
<p><em>Istriku Liliana tersayang,</p>
<p>Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.</p>
<p>Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.</p>
<p>Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.</p>
<p>Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. </p>
<p>Oke, Buddy!</em></p>
<p>Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.</p>
<p>Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.</p>
<p>Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.</p>
<p>Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”</p>
<p>Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”</p>
<p>Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”</p>
<p>Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”</p>
<p>Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.</p>
<p>Source : <a href="http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/" target="_blank">blogdetik.com</a>
<p>Posted with WordPress for BlackBerry.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/siwah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/siwah.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/siwah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/siwah.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/siwah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/siwah.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/siwah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/siwah.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/siwah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/siwah.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/siwah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/siwah.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/siwah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/siwah.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=139&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siwah.wordpress.com/2011/10/12/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0eb6ab4e57a3b37864da6dee872a65f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">siwah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://siwah.files.wordpress.com/2011/10/male_silhouette_by_bpmjackofhearts.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Husband Dream</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan yang dicintai suamiku</title>
		<link>http://siwah.wordpress.com/2011/09/23/perempuan-yang-dicintai-suamiku/</link>
		<comments>http://siwah.wordpress.com/2011/09/23/perempuan-yang-dicintai-suamiku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 08:52:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>siwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siwah.wordpress.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=134&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://siwah.files.wordpress.com/2011/09/depresi1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-135" title="depresi" src="http://siwah.files.wordpress.com/2011/09/depresi1.jpg?w=150&#038;h=103" alt="" width="150" height="103" /></a></p>
<p>Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.</p>
<p>Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.</p>
<p>Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.</p>
<p>Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.</p>
<p>Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.</p>
<p>Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.</p>
<p>Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.</p>
<p>Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.</p>
<p>Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.</p>
<p>Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,</p>
<p>” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !</p>
<p>Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.</p>
<p>Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.</p>
<p>Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.</p>
<p>Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.</p>
<p>Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?”</p>
<p>Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,</p>
<blockquote><p><em>Dear Meisha,</em></p>
<p><em>Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.</em></p>
<p><em>Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.</em></p>
<p><em>Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.</em></p>
<p><em>Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.</em></p>
<p><em>yours,</em></p>
<p><em>Mario</em></p></blockquote>
<p>Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.</p>
<p>Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.</p>
<p>Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.</p>
<p>Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.</p>
<p>Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.</p>
<p>Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.</p>
<p>**********</p>
<p>Setahun kemudian…</p>
<p>Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.</p>
<blockquote><p><em>” Mario, suamiku….</em></p>
<p><em>Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..</em></p>
<p><em>Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.</em></p>
<p><em>Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ” kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?”</em></p>
<p><em>Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.</em></p>
<p><em>Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.</em></p>
<p><em>Istrimu,</em></p>
<p><em>Rima”</em></p></blockquote>
<p>Di surat yang lain,</p>
<blockquote><p><em>“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”</em></p></blockquote>
<p>Disurat yang kesekian,</p>
<blockquote><p><em>“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.</em></p>
<p><em>Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….</em></p>
<p><em>Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”</em></p></blockquote>
<p>Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.</p>
<p>Disurat terakhir, pagi ini…</p>
<blockquote><p><em>“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.</em></p>
<p><em>Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.</em></p>
<p><em>Tahukah engkau suamiku,</em></p>
<p><em>Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”</em></p></blockquote>
<p>Jelita menatap Meisha, dan bercerita,</p>
<p>” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……” Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.</p>
<p>Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.</p>
<blockquote><p><em>Dear Meisha,</em></p>
<p><em>Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?</em></p>
<p><em>Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….</em></p></blockquote>
<p>Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.</p>
<p>Jakarta, 7 Januari 2009</p>
<p>Source : <a href="http://botefilia.com/index.php/archives/2009/01/07/perempuan-yang-dicintai-suamiku/" target="_blank">Botefilia.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/siwah.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/siwah.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/siwah.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/siwah.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/siwah.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/siwah.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/siwah.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/siwah.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/siwah.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/siwah.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/siwah.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/siwah.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/siwah.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/siwah.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=134&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siwah.wordpress.com/2011/09/23/perempuan-yang-dicintai-suamiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>5.350330 100.307345</georss:point>
		<geo:lat>5.350330</geo:lat>
		<geo:long>100.307345</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0eb6ab4e57a3b37864da6dee872a65f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">siwah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://siwah.files.wordpress.com/2011/09/depresi1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">depresi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Benci Aku, Mama&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://siwah.wordpress.com/2011/03/23/jangan-benci-aku-mama-2/</link>
		<comments>http://siwah.wordpress.com/2011/03/23/jangan-benci-aku-mama-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Mar 2011 05:50:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>siwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[fitrah manusia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://siwah.wordpress.com/2011/03/23/jangan-benci-aku-mama-2/</guid>
		<description><![CDATA[Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya nama Erik. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain saja atau dititipkan di panti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak. Namun suamiku mencegah niat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=128&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://siwah.files.wordpress.com/2011/03/homewpcompublic_htmlwp-contentblogs-dir2391159204files201103janganbenci.jpg"><img class="alignnone size-full" src="http://siwah.files.wordpress.com/2011/03/homewpcompublic_htmlwp-contentblogs-dir2391159204files201103janganbenci.jpg" alt="" title="jangan benci diriku" width="337" height="200" /></a></p>
<p>Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya nama Erik. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain saja atau dititipkan di panti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.</p>
<p>Namun suamiku mencegah niat buruk itu. Akhirnya dengan terpaksa kubesarkan juga. Di tahun kedua setelah Erik dilahirkan, akupun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Kuberi nama Angel. Aku sangat menyayangi Angel, demikian juga suamiku. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan &amp; membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.</p>
<p>Namun tidak demikian halnya dengan Erik. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Suamiku sebenarnya sudah berkali-kali berniat membelikannya, namun aku selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Suamiku selalu menuruti perkataanku.</p>
<p>Saat usia Angel 2 tahun, Suamiku meninggal dunia. Erik sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya aku mengambil sebuah tindakan yang akan membuatku menyesal seumur hidup. Aku pergi meninggalkan kampung kelahiranku bersama Angel. Erik yang sedang tertidur lelap kutinggalkan begitu saja.</p>
<p>Kemudian aku memilih tinggal di sebuah rumah kecil setelah tanah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun&#8230;&#8230;&#8230;. telah berlalu sejak kejadian itu.</p>
<p>Kini Aku telah menikah kembali dengan Beni, seorang pria dewasa yang mapan. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Beni, sifat-sifat burukku yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.</p>
<p>Angel kini telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkannya di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Erik dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam di mana aku bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arahku. Sambil tersenyum ia berkata, &#8220;Tante, Tante kenal mama caya? caya lindu cekali cama Mama!&#8221;</p>
<p>Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun aku menahannya,<br />
&#8220;Tunggu&#8230;, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?&#8221;<br />
&#8220;Nama caya Elik, Tante.&#8221;<br />
&#8220;Erik? Erik&#8230; Ya Tuhan! Kau benar-benar Erik?&#8221;</p>
<p>Aku langsung tersentak bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpaku saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu, seperti sebuah film yang sedang diputar di kepala. Baru sekarang aku menyadari betapa jahatnya perbuatanku dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu.</p>
<p>Ya, sepertinya saya memang harus mati&#8230;, mati&#8230;, mati&#8230; Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Erik melintas kembali di pikiranku. Ya Erik, Mama akan menjemputmu Erik&#8230;sabar ya nak&#8230;.&#8221;</p>
<p>Sore itu aku memarkir mobil biruku di samping sebuah gubuk, dan Beni suamiku dengan pandangan heran menatapku dari samping. &#8220;Maryam, apa yang sebenarnya terjadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, suamiku, kau pasti akan membenciku setelah kuceritakan hal yang telah kulakukan dulu.&#8221; tetapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak.</p>
<p>Ternyata Tuhan sungguh baik kepadaku. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangisku reda, aku pun keluar dari mobil diikuti oleh suami dari belakang. Mataku menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter didepan. Aku mulai teringat betapa gubuk itu pernah kutempati beberapa tahun lamanya dan Erik&#8230;.. Erik&#8230;&#8230;</p>
<p>Aku meninggalkan Erik di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih aku pun berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali&#8230; Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.</p>
<p>Namun aku tidak menemukan siapa pun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Aku mengambil seraya mengamatinya dengan seksama&#8230; Mataku mulai berkaca-kaca, aku mengenali betul potongan kain tersebut, itu bekas baju butut yang dulu dikenakan Erik sehari-hari, baju butut yang kadang aku sendiri jijik mencucinya&#8230;&#8230;</p>
<p>Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, aku pun keluar dari ruangan itu&#8230; Air mataku mengalir dengan deras. Saat itu aku hanya diam saja. Sesaat kemudian aku dan suami mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, tiba &#8211; tiba aku melihat seseorang di belakang mobil kami. Aku sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.</p>
<p>Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali aku tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.<br />
&#8220;Heii&#8230;! Siapa kamu?! Mau apa kau ke sini?!&#8221;</p>
<p>Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, &#8220;Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Erik yang dulu tinggal di sini?&#8221;</p>
<p>Tiba &#8211; tiba Ia menjawab, &#8220;Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Erik terus menunggu ibunya seraya memanggil, &#8216;Mamaaa&#8230;, Mamaaa!&#8217;</p>
<p>Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan &amp; mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Erik meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu&#8230;..&#8221;</p>
<p>Saya pun membaca tulisan di kertas itu&#8230;<br />
&#8220;Mama, mengapa Mama tidak pernah kembali lagi&#8230;? Mama benci ya sama Erik? Ma&#8230;., biarlah Erik yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji ya, kalau Mama tidak akan benci lagi sama Eric. Udah dulu ya Ma, Erik sayaaaang sama Mama, &#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku menjerit histeris membaca surat itu. &#8220;Bu, tolong katakan&#8230; katakan di mana ia sekarang? Aku berjanji akan meyayanginya sekarang! Aku tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!&#8221; Suamiku memeluk tubuhku yang bergetar sangat keras.</p>
<p>&#8220;Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Erik telah meninggalkan dunia. Ia meninggal persis di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mama-nya datang, Mama-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana &#8230;</p>
<p>Ia hanya berharap dapat melihat Mamanya dari belakang gubuk ini&#8230; Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya disana. Nyonya, dosa Anda sungguh tidak terampuni!&#8221;</p>
<p>Aku kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.</p>
<p>Source : <a href="http://situslakalaka.blogspot.com/2010/08/jangan-benci-aku-mama.html?m=1" target="_blank">situslakalaka.blogspot.com</a>
<p>Posted with WordPress for BlackBerry.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/siwah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/siwah.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/siwah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/siwah.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/siwah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/siwah.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/siwah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/siwah.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/siwah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/siwah.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/siwah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/siwah.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/siwah.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/siwah.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=128&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siwah.wordpress.com/2011/03/23/jangan-benci-aku-mama-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0eb6ab4e57a3b37864da6dee872a65f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">siwah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://siwah.files.wordpress.com/2011/03/homewpcompublic_htmlwp-contentblogs-dir2391159204files201103janganbenci.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jangan benci diriku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tutorial SignOut (keluar) dari mailing List</title>
		<link>http://siwah.wordpress.com/2008/03/18/tutorial-signout-keluar-dari-mailing-list/</link>
		<comments>http://siwah.wordpress.com/2008/03/18/tutorial-signout-keluar-dari-mailing-list/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 06:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>siwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[signout yahoogroups]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siwah.wordpress.com/2008/03/18/tutorial-signout-keluar-dari-mailing-list/</guid>
		<description><![CDATA[ada banyak email yang aku lihat di milis2 yang menghendaki untuk keluar dari millis tersebut dengan bantuan moderatoe. sebenarnya kita juga bisa keluar dengan mudah dari milis tersebut dengan beberapa langkah mudah. sebagai contoh disini saya keluar dari suatu milis yaitu milis venus_cdma, alasan keluar karena saya tidak lagi mengunakan produk mereka. ini tutorial nya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=123&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ada banyak email yang aku lihat di milis2 yang menghendaki untuk keluar dari millis tersebut dengan bantuan moderatoe. sebenarnya kita juga bisa keluar dengan mudah dari milis tersebut dengan  beberapa langkah mudah. sebagai contoh disini saya keluar dari suatu milis yaitu milis venus_cdma, alasan keluar karena saya tidak lagi mengunakan produk mereka. ini tutorial nya :</p>
<p>langkah awal mengetikkan yahoogroupscom di address bar (seperti biasa kita melakukan surving yang laen). untuk lebih jelas seperti gambar berikut ini. disini saya signout dari milis venus_cdma (karena saya tidak lagie sesuai deskripsi milis tersebut, jadi saya keluar), selanjutnya klik milis mana yang akan kita lakukan proses signout :</p>
<p><span id="more-123"></span></p>
<p><a href="http://s270.photobucket.com/albums/jj112/siwah/?action=view&amp;current=signout1yahoogroups.jpg" target="_blank"><img border="0" alt="Photobucket" /></a></p>
<p>dicontoh ini saya keluar dari milis venus_cdma, kemudian saya klik edit memberships, seperti contoh dibawah ini :</p>
<p><a href="http://s270.photobucket.com/albums/jj112/siwah/?action=view&amp;current=signoutyahoogroups.jpg" target="_blank"><img border="0" alt="Photobucket" /></a></p>
<p>selanjutnya klik butang &#8220;leave groups&#8221;. sehingga kita akan masuk seperti gambar dibawah ini :</p>
<p><a href="http://s270.photobucket.com/albums/jj112/siwah/?action=view&amp;current=signout2yahoogroups.jpg" target="_blank"><img border="0" alt="Photobucket" /></a></p>
<p>Disini, yahoogroups akan menanyakan apakah kita serius akan keluar dari groups tersebut.seperti gambar dibawah ini :</p>
<p><a href="http://s270.photobucket.com/albums/jj112/siwah/?action=view&amp;current=signout3yahoogroups.jpg" target="_blank"><img border="0" alt="Photobucket" /></a></p>
<p>kalo Anda yakin silahkan klik butang leave groups kembali, sehingga hasilnya seperti gambar dibawah ini :</p>
<p><a href="http://s270.photobucket.com/albums/jj112/siwah/?action=view&amp;current=signout4yahoogroups.jpg" target="_blank"><img border="0" alt="Photobucket" /></a></p>
<p>Akhirnya, kita sudah berhasil keluar dari milis tersebut tanpa bantuan moderator, selamat mencoba &#8230;.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/siwah.wordpress.com/123/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/siwah.wordpress.com/123/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/siwah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/siwah.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/siwah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/siwah.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/siwah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/siwah.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/siwah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/siwah.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/siwah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/siwah.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/siwah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/siwah.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/siwah.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/siwah.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=123&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siwah.wordpress.com/2008/03/18/tutorial-signout-keluar-dari-mailing-list/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0eb6ab4e57a3b37864da6dee872a65f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">siwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Broadband Internet Access In Aceh</title>
		<link>http://siwah.wordpress.com/2008/03/16/broadband-internet-access-in-aceh/</link>
		<comments>http://siwah.wordpress.com/2008/03/16/broadband-internet-access-in-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 17:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>siwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[speedtest indosat mentari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siwah.wordpress.com/2008/03/16/broadband-internet-access-in-aceh/</guid>
		<description><![CDATA[Ane test kecepatan menggunakan internet di tanoh Aceh menggunakan indosat @durasi, nei kecepatan aku : Semoga teman yang laen bisa nunjukin donk berapa kecepatan (speed) internet dirumah, please tulis disini ya, aku mo tau apa semua di Aceh udah bisa menggunakan di internet&#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=122&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ane test kecepatan menggunakan internet di tanoh Aceh menggunakan indosat @durasi, nei kecepatan aku :</p>
<p><a href="http://www.speedtest.net"><img src="http://www.speedtest.net/result/247142633.png" alt="" /></a></span></p>
<p>Semoga teman yang laen bisa nunjukin donk berapa kecepatan (speed) internet dirumah, please tulis disini ya, aku mo tau apa semua di Aceh udah bisa menggunakan di internet&#8230;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/siwah.wordpress.com/122/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/siwah.wordpress.com/122/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/siwah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/siwah.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/siwah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/siwah.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/siwah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/siwah.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/siwah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/siwah.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/siwah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/siwah.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/siwah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/siwah.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/siwah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/siwah.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=122&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siwah.wordpress.com/2008/03/16/broadband-internet-access-in-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0eb6ab4e57a3b37864da6dee872a65f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">siwah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.speedtest.net/result/247142633.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>MAMPUKAH KITA MENJADI LELAKI SPT ITU..</title>
		<link>http://siwah.wordpress.com/2008/02/13/mampukah-kita-menjadi-lelaki-spt-itu/</link>
		<comments>http://siwah.wordpress.com/2008/02/13/mampukah-kita-menjadi-lelaki-spt-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 02:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>siwah</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://siwah.wordpress.com/2008/02/13/mampukah-kita-menjadi-lelaki-spt-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Statement yang ini menurut gue bagus banget: &#8220;Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai karena Allah semuanya akan luntur.&#8221; Kira-kira, didunia ini ada berapa orang laki-laki yg seperti ini, ya&#8230;.??? (1 banding 1000 ?, pesimis banget yach&#8230;zaman sekarang gitu loh&#8230;&#8230;) Bahagia banget ya jadi perempuan kalau ternyata pasangan hidup kita seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=121&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Statement yang ini menurut gue bagus banget: &#8220;Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai karena Allah semuanya akan luntur.&#8221; Kira-kira, didunia ini ada berapa orang laki-laki yg seperti ini, ya&#8230;.??? (1 banding 1000 ?, pesimis banget yach&#8230;zaman sekarang gitu loh&#8230;&#8230;) Bahagia banget ya jadi perempuan kalau ternyata pasangan hidup kita seperti Bpk Suyatno yang ada di cerita ini&#8230;&#8230;Based on True Story..</p>
<p>Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja, bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi  dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.</p>
<p>Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.</p>
<p><span id="more-121"></span></p>
<p>Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah. Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka Dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata &#8221; Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu&#8221; . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya &#8220;sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi ,kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak,kami janji kami akan merawat ibu bergantian&#8221;. Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.&#8221;</p>
<p>Anak2ku&#8230; Jikalau hidup didunia ini hanya untuk nafsu Mungkin bapak akan menikah, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah Melahirkan kalian&#8221;.. sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang&#8221;. kalian menginginkan bapak yg masih diberi Allah kesehatan dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.</p>
<p>Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..<br />
Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber diacara islami Selepas shubuh dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak suyatno bercerita&#8221;.</p>
<p>Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai karena Allah semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit berkorban untuk saya karena Allah..dan itu merupakan ujian bagi saya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya dapat bercerita kepada Allah Diatas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya..</p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/siwah.wordpress.com/121/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/siwah.wordpress.com/121/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/siwah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/siwah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/siwah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/siwah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/siwah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/siwah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/siwah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/siwah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/siwah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/siwah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/siwah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/siwah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/siwah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/siwah.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=121&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siwah.wordpress.com/2008/02/13/mampukah-kita-menjadi-lelaki-spt-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0eb6ab4e57a3b37864da6dee872a65f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">siwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Kisah Yang Indah</title>
		<link>http://siwah.wordpress.com/2008/02/08/sebuah-kisah-yang-indah/</link>
		<comments>http://siwah.wordpress.com/2008/02/08/sebuah-kisah-yang-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2008 19:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>siwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siwah.wordpress.com/2008/02/08/sebuah-kisah-yang-indah/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kisah yang indah, yang terkirimkan dalam surat di friendster.com Kisah ini ingin kembali kuceritakan, tentang arti sebuah makna di dalam suatu tindakan. Terkadang yang kita lupakan. Maka jamahlah ia dengan hatimu: Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=120&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah kisah yang indah, yang terkirimkan dalam surat di friendster.com</p>
<p>Kisah ini ingin kembali kuceritakan, tentang arti sebuah makna di dalam suatu tindakan. Terkadang yang kita lupakan. Maka jamahlah ia dengan hatimu:</p>
<p>Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya.</p>
<p>Suatu hari sang cucu nya bertanya, “Kakek! Aku mencoba untuk membaca Qur’An seperti yang engkau lakukan tetapi aku masih saja tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Qur’An?”</p>
<p>Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melubangi keranjangnya ia menjawab, “Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.”</p>
<p>Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.</p>
<p><span id="more-120"></span></p>
<p>Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi.”</p>
<p>Kemudian sang kakek menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap saja lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakeknya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.</p>
<p>Sang kakek berkata, ” Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup,” maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucunya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakeknya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.</p>
<p>Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai di depan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, “Lihat Kek, percuma!”</p>
<p>“Jadi kamu pikir percuma?” Jawab kakek.</p>
<p>Kakek berkata, “Lihatlah keranjangnya.” Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor, kini bersih luar-dalam. “Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur’An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membacanya lagi, kamu akan berubah, luar-dalam. Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.”</p>
<p>Jika kamu merasa tulisan ini patut dibaca, maka lanjutkanlah ke teman-temanmu. Seperti sabda Nabi Muhammad( SAW) : “Bagi siapa saja yang membawa kebaikan maka akan mendapat ganjarannya.“</p>
<p>dikutip dari website : http://www.baiquni.net</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/siwah.wordpress.com/120/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/siwah.wordpress.com/120/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/siwah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/siwah.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/siwah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/siwah.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/siwah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/siwah.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/siwah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/siwah.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/siwah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/siwah.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/siwah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/siwah.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/siwah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/siwah.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=120&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siwah.wordpress.com/2008/02/08/sebuah-kisah-yang-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0eb6ab4e57a3b37864da6dee872a65f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">siwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>bila aku jatuh cinta</title>
		<link>http://siwah.wordpress.com/2008/01/28/bila-aku-jatuh-cinta/</link>
		<comments>http://siwah.wordpress.com/2008/01/28/bila-aku-jatuh-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 16:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>siwah</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://siwah.wordpress.com/2008/01/28/bila-aku-jatuh-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Allahu Rabbiy,,, aku minta izin, bila suatu saat aku jatuh cinta jangan biarkan cinta untukMu berkurang hingga membuat lalai akan adanya engkau Allahu Rabbiy,,, aku punya pinta, bila suatu saat aku jatuh cita penuhilah hatiku dengan bilangan cintaMu yang tak terbatas biar rasaku padaMu tetap utuh Allahu Rabbiy,,, izinkanlah, bila suatu saat aku jatuh cinta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=119&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Allahu Rabbiy,,, <br />aku minta izin, bila suatu saat aku jatuh cinta <br />jangan biarkan cinta untukMu berkurang <br />hingga membuat lalai akan adanya engkau  </p>
<p>Allahu Rabbiy,,, <br />aku punya pinta, bila suatu saat aku jatuh cita <br />penuhilah hatiku dengan bilangan cintaMu yang tak terbatas <br />biar rasaku padaMu tetap utuh  </p>
<p><span class="fullpost"><br />Allahu Rabbiy,,, <br />izinkanlah, bila suatu saat aku jatuh cinta <br />pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasihMu <br />dan membuatku semakin mengagumiMu  </p>
<p>Allahu Rabbiy,,, <br />bila suatu saat aku jatuh hati <br />pertemukanlah aku dengannya <br />berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cintaMu  </p>
<p>Allahu Rabbiy,,, <br />pintaku terakhir adalah <br />seandainya aku jatuh hati <br />jangan pernah kau palingkan wajahMu dariku <br />anugerahkanlah aku cintaMu <br />cinta yang tak pernah pupus oleh waktu. amin..!!  </p>
<p>by. Rafiah Aini Jasrie alumni MUQ2005</p>
<p class='poweredbyperformancing'>Powered by <a href='http://scribefire.com/'>ScribeFire</a>.</p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/siwah.wordpress.com/119/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/siwah.wordpress.com/119/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/siwah.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/siwah.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/siwah.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/siwah.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/siwah.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/siwah.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/siwah.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/siwah.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/siwah.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/siwah.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/siwah.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/siwah.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/siwah.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/siwah.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=119&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siwah.wordpress.com/2008/01/28/bila-aku-jatuh-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0eb6ab4e57a3b37864da6dee872a65f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">siwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Don&#8217;t Cry, Ketika Mencintai, Tak Bisa Menikahi</title>
		<link>http://siwah.wordpress.com/2007/08/22/dont-cry-ketika-mencintai-tak-bisa-menikahi/</link>
		<comments>http://siwah.wordpress.com/2007/08/22/dont-cry-ketika-mencintai-tak-bisa-menikahi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Aug 2007 10:57:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>siwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siwah.wordpress.com/2007/08/22/dont-cry-ketika-mencintai-tak-bisa-menikahi/</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh, merupakan hal yang sangat menyakitkan hati. Ketika cinta kita ditolak oleh seeorang yang sangat kita harapkan cintanya. Sebahagaian dari kita mungkin akan langsung berfikir sepertinya Allah tidak adil. Langit terasa muram dan tidak bercahaya. Bukankah cinta kita benar2 tulus dan murni. Untuk mehjaga diri dari dosa, menjaga pandangan, menjaga hati bahkan demi menjaga kesuian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=117&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh, merupakan hal yang sangat menyakitkan hati. Ketika cinta kita<br />
ditolak oleh seeorang yang sangat kita harapkan cintanya. Sebahagaian<br />
dari kita mungkin akan langsung berfikir sepertinya Allah tidak adil.<br />
Langit terasa muram dan tidak bercahaya. Bukankah cinta kita benar2<br />
tulus dan murni. Untuk mehjaga diri dari dosa, menjaga pandangan,<br />
menjaga hati bahkan demi menjaga kesuian agama-Nya? Apa yang salah<br />
pada diri kita? Tidak layakkah kita mendapakan janjinya &#8220;jika kamu<br />
menolong agama (Allah), nioscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan<br />
kedudukanmu&#8221; (QS: Muhammad 7)</p>
<p>Begitu mahalkah tiket untuk mendapatkan pertolonganNya, lantas<br />
dimanakah janjiNya, &#8220;Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan<br />
bagimu&#8221; (QS: Al-Mu&#8217;min 60)</p>
<p><span class="fullpost">Ya sebenarnya factor yang paling utama mengapa keinginanmu belum<br />
dikabulkan, padahal usia sudah waktunya, tujuan sudah mulia, bahkan<br />
mungkin kemampuan sudah ada. Hanya satu factor penyebabnya. Yaitu<br />
perbedaan persepsi antara kita dan Allah. Kita seringkali menganggap<br />
bahwasanya apa-apa yang sesuai dengan keinginan kita itulah yang<br />
terbaik bagi kita, padahal tidak selamanya loh, (baca QS:Al-Baqarah 216)</span></p>
<p><span id="more-117"></span>Dari ayat tersebut, kita tahu bahwa ada hikmah dibalik setiap kejadian<br />
apapun yang menimpa kita, ada kebaikan dibalik sesuatu yang kita<br />
anggap buruk,demikian pula sebaliknya.</p>
<p>Agaknya tidak ada salahnya jika kita sedikit mendengar penuturan Ibnu<br />
Al-Jauzy yang mengajarkan &#8220;jika anda tidak mampu menangkap hikmah,<br />
bukan karena hikmah itu tidak ada, namun semua itu akibat kelemahan<br />
daya ingat anda sendiri. Anda kemudian harus tahu bahwa para raja pun<br />
memiliki rahasia yang tidak diketahui setiap orang. Bagaimana mungkin<br />
anda dengan segala kelemahan anda akan sanggup mengungkap sebuah hikmah?&#8221;</p>
<p>Betapa beratpun sebuah ujian yang kita alami, pasti akan ada jalan<br />
keluarnya. Allah menyatakan, &#8221; Kami tidak memikulkan beban kepada<br />
seseorang melainkan sekedar kesanggupannya&#8221; (QS: Al-An&#8217;am 152). Dalam<br />
ayat yang lain Allah berfirman &#8220;barangsiapa bertakwa kepada Allah<br />
niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki<br />
dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang<br />
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan baginya<br />
keperluannya&#8221; (QS: At-Thalaq 2-3)</p>
<p>Yakinilah bahwa kegagalan cinta yang kit alami, tertolaknya cinta yang<br />
kita ajukan,sudah dirancang sedemikian rupa skenarionya oleh Allah.<br />
Sehingga tidak perlu menyikapinya secara berlebihan. Daripada kita<br />
larut dalam kesedihan, menagis, menyesali diri, patah hati atau bunuh<br />
diri lebih baik kita berbaik sangka saja kepada Allah. Tidak pantas<br />
diri ini mengeluh apalagi menyesali sebuah kegagalan. Bersikaplah<br />
positif kedepan. Yakinlah bahwasanya kegagalan cinta bukanlah akhir<br />
dari segalanya, bukanlah awal dari sebuah kehancuran.</p>
<p>Sejarah mencatat, banyak sekali pribadi-pribadi sukses di dunia ini<br />
mengawali kesuksesannya setelah ditimpa berkali-kali gagal dalam usaha<br />
mereka, begitu juga tentang urusan cinta. Sebagai manusia kita<br />
dibekali potensi yang sedemikian hebatnya oleh Allah. Dan terkadang<br />
potensi yang ada pada diri kita justru baru kita ketahui setelah kita<br />
menghadapai beberapa kali kegagalan.</p>
<p>Aa Gym pernah mengatakan &#8220;jika nasi sudah menjadi bubur, maka kita<br />
harus mulai memikirkan ayam, cakwe, sledri, bawang goreng dan samber<br />
seb\hingga bubur kita akan menjadi bubur ayam yang spesial. Karena<br />
itu, satu orang yang menolak cinta kita seharusnya tidak menjadikan<br />
kita lupa pada puluhan bahkan ratusan orang lain yang menyayangi kita.<br />
Namun justru seharusnya menjadi cambuk bagi diri kita untuk menjadi<br />
lebih baik.</p>
<p>Ayo Terus Perbaiki Kekurangan Diri</p>
<p>Mungkin kita merasa bahwa kita sudah siap dan mampu, kita merasa bahwa<br />
kita baik hati, tidak sombong, berasal dari keluarga baik-baik, punya<br />
ilmu agama yang cukup memadai, pribadi oke, wajah pun tidak<br />
mengecewakan. Tapi mengapa dia masih tidak bersedia? Kriteria seperti<br />
apa lagi yang dia dambakan? Sekali lagi, cinta tidak bisa dipaksakan,<br />
mungkin ada beberapa kriteria lain yang belum kita miliki, yaitu<br />
kriteria yang baginya adalah prioritas dari kriteria lainnya dan hal<br />
itu merupakan daya tarik tersendiri bagi dirinya.</p>
<p>Kalau sudah begitu, mari kita jadikan momen penolakan tersebut sebagai<br />
momen kita untuk mencari tau dan memperbaiki terus<br />
kekurangan-kekurang an kita. Sekali ditolak, berarti satu perubahan<br />
kearah yang lebih baik, dua kali ditolak, dua perubahan, sehingga papa<br />
akhirnya, ketika Allah mengirimkan seseorang yang terbaik menurutNya<br />
kepada kita, orang tersebut akan terpana dan berkata &#8220;waaa&#8230;istri /<br />
suamiku ternyata keren sekaliii..&#8221;</p>
<p>Ingat, kita harus selalu berusaha memperbaiki kekurangan<br />
diri,menjadikan setiap kegagalan sebagai batu loncatan ke arah<br />
kesuksesan,, melecutkan kemampuan,membangun potensi yang selama ini<br />
terpendam,memacu semngat dalam diri. Seorang pemenang tidak<br />
dilahirkan, tetapi harus diciptakan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/siwah.wordpress.com/117/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/siwah.wordpress.com/117/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/siwah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/siwah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/siwah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/siwah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/siwah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/siwah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/siwah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/siwah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/siwah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/siwah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/siwah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/siwah.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/siwah.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/siwah.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=117&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siwah.wordpress.com/2007/08/22/dont-cry-ketika-mencintai-tak-bisa-menikahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0eb6ab4e57a3b37864da6dee872a65f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">siwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karena Dia Manusia Biasa..</title>
		<link>http://siwah.wordpress.com/2007/08/22/karena-dia-manusia-biasa/</link>
		<comments>http://siwah.wordpress.com/2007/08/22/karena-dia-manusia-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Aug 2007 10:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>siwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siwah.wordpress.com/2007/08/22/karena-dia-manusia-biasa/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir manusiawi lah ). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=116&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan<br />
pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu?<br />
Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga<br />
jawaban duniawi (cakep atau tajir <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  manusiawi lah <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ). Tapi ada satu<br />
jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih<br />
ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang<br />
baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka<br />
hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan<br />
pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang<br />
akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah<br />
lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti,<br />
dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma<br />
dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia<br />
memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka<br />
berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi<br />
kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.</p>
<p><span class="fullpost">Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal<br />
pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya<br />
selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya.<br />
Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.<br />
Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa<br />
memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali<br />
waktu itu (sok sibuk sih aslinya <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ). Saya tidak bisa membantunya<br />
mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta<br />
pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk<br />
menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That&#8217;s all. Kita<br />
tenggelam dalam kesibukan masing-masing.</span></p>
<p><span id="more-116"></span>Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya<br />
memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa<br />
ngobrol –hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi,<br />
sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol<br />
tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada<br />
banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak<br />
pada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.<br />
&#8220;Aku gak bisa tidur.&#8221; Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya<br />
paham kondisinya saat ini.<br />
&#8220;Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.&#8221;<br />
&#8220;Iya.. ya.&#8221; Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan<br />
lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil<br />
berbisik-bisik. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan.<br />
Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita.<br />
Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan<br />
aura cinta yang menerangi kamar saat itu. Hingga akhirnya terlontar<br />
juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam.<br />
&#8220;Kenapa kamu memilih dia?&#8221; Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari<br />
tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci<br />
meja riasnya. Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas<br />
didalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan<br />
selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop<br />
putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya<br />
bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah<br />
ngikik geli.<br />
&#8220;Buka aja.&#8221; Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4,<br />
saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat<br />
diatas dideretan paling atas.<br />
&#8220;Busyet dah nih orang.&#8221; Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil<br />
menahan senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya<br />
memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan<br />
kata-katanya. Begini isi surat itu.</p>
<p>Kepada YTH<br />
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan<br />
calon kakak buat adik-adik saya<br />
Di tempat</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum Wr Wb<br />
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat<br />
ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi<br />
saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.</p>
<p>Saya, yang bernama …… menginginkan anda …… untuk menjadi istri saya.<br />
Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya<br />
pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya<br />
pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk<br />
mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih<br />
kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak<br />
selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan<br />
anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Saya hanyalah<br />
manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan.<br />
Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi<br />
kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia<br />
biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan<br />
anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi<br />
luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama<br />
sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh<br />
saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan<br />
ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak<br />
tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh<br />
berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu,<br />
Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk<br />
menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani<br />
menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih<br />
baik dari saat ini.</p>
<p>Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya.<br />
Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah<br />
ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum Wr Wb</p>
<p>Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali<br />
ini saya membaca surat &#8216;lamaran&#8217; yang begitu indah. Sederhana, jujur<br />
dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga.<br />
Surat cinta minimalis, saya menyebutnya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Saya menatap sahabat<br />
disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.<br />
&#8220;Kenapa kamu memilih dia.&#8221;<br />
&#8220;Karena dia manusia biasa.&#8221; Dia menjawab mantap. &#8220;Dia sadar bahwa dia<br />
manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku<br />
tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa.<br />
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian<br />
hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.&#8221;<br />
&#8220;Maksudnya?&#8221;<br />
&#8220;Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih<br />
ada. Iya kan? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau<br />
suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha.&#8221;<br />
&#8220;Ssttt.&#8221; Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum<br />
tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering<br />
terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu<br />
cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. &#8220;Udah tidur. Besok kamu<br />
kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.&#8221; Kita kembali rebahan. Tapi mata<br />
ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih terngiang terus<br />
ditelinga saya.<br />
&#8220;Gik…&#8221;<br />
&#8220;Tidur. Dah malam.&#8221; Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin<br />
dia tidur, agar dia terlihat cantik besuk pagi. Kantuk saya hilang<br />
sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.</p>
<p>Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia<br />
sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur<br />
segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh<br />
sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun<br />
yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya kelak. Lalu<br />
menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah<br />
&#8216;proses usaha&#8217;. Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan<br />
harta, tahta dan &#8216;nama&#8217;. Embel-embel predikat diri yang selama ini<br />
melekat ditanggalkan. Ketika segala yang &#8216;melekat&#8217; pada diri bukanlah<br />
dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena<br />
Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada<br />
Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah. Hanya Allah<br />
yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang mampu<br />
memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah<br />
pernikahan.</p>
<p>Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan<br />
barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga<br />
ketenangan dan kemantapan untuk menikah. Lalu, bagaimana dengan cinta?<br />
Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi<br />
hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi<br />
dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing<br />
tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara<br />
bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa). Cinta paling<br />
halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha mengabungkannya<br />
agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/siwah.wordpress.com/116/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/siwah.wordpress.com/116/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/siwah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/siwah.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/siwah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/siwah.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/siwah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/siwah.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/siwah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/siwah.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/siwah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/siwah.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/siwah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/siwah.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/siwah.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/siwah.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=siwah.wordpress.com&amp;blog=1159204&amp;post=116&amp;subd=siwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siwah.wordpress.com/2007/08/22/karena-dia-manusia-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0eb6ab4e57a3b37864da6dee872a65f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">siwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
